Filed under: Management Information System
Pada masa-masa lalu kita bisa membayangkan bagaimana caranya mengetahui berapa jumlah stock suatu barang. Merupakan suatu hal yang sangat tidak efektif jika kita memilih untuk menghitungnya satu-per-satu. Pada tahun 1932, Wallace Flint dari Harvard University Graduate School of Business Administration, yang mengusulkan pemakaian kartu stock untuk menyatakan jumlah inventory yang ada. Setiap kali terjadi pengurangan barang harus dilakukan pendataan (pengurangan) kartu stock itu. Tapi tetap saja ini merepotkan si penjaga yang harus senantiasa mengecek kartu stock. Bagaimana jika pembelian barang sangat variatif dan dalam jumlah yang banyak?
Akhirnya diketemukanlah sistem bar codes yang pertama pada tahun 1948 oleh Bernard Silver dari Philadelphia’s Drexel Institute of Technology. Pada masa-masa awal sistem masih banyak menemukan problema yag cukup kompleks, khususnya dari sistem penandaannya itu sendiri yaitu instabilitas tinta printing yang dipakai.
Tidak ada satu standard dari kode batang ini, malahan terdapat bermacam-macam standard yang digunakan untuk berbagai keperluan, industri, maupun berdasarkan tempat digunakannya. Semenjak 1973, Uniform Product Code (UPC) diatur oleh Uniform Code Council, sebuah organisasi industri, yang menyediakan suatu standard bar code yang digunakan oleh toko-toko retail. Joe Woodland, merupakan penemu sistem barcode ini.
1 Comment so far
Leave a comment
bacode sangat berguna buat kita karena tanpa barcode kalo mau beli permen di swaayan bakal nunggu seharian
Comment by amir lazuardi December 14, 2008 @ 2:25 pm